kuning rumah sakit
Kuning Rumah Sakit: A Comprehensive Guide to Nosocomial Jaundice
Penyakit kuning, ditandai dengan menguningnya kulit dan sklera (bagian putih mata), timbul akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Meskipun umumnya dikaitkan dengan gangguan hati, penyakit kuning juga dapat terjadi di rumah sakit, sehingga menimbulkan tantangan diagnosis dan penatalaksanaan yang unik. Fenomena ini, yang sering disebut “kuning rumah sakit” dalam konteks Indonesia, mencakup berbagai etiologi, sehingga memerlukan pendekatan sistematis untuk identifikasi yang akurat dan intervensi yang tepat.
Memahami Metabolisme Bilirubin: Dasar Penyakit Kuning
Untuk memahami kompleksitas penyakit kuning nosokomial, pemahaman menyeluruh tentang metabolisme bilirubin sangat penting. Bilirubin adalah produk sampingan dari pemecahan heme, terutama berasal dari sel darah merah tua. Prosesnya berlangsung dalam beberapa tahap:
-
Degradasi Heme: Sel darah merah, yang mencapai akhir masa pakainya, difagositosis oleh makrofag di limpa, hati, dan sumsum tulang. Di dalam makrofag ini, heme diubah menjadi biliverdin oleh heme oksigenase. Biliverdin reduktase kemudian mengubah biliverdin menjadi bilirubin tak terkonjugasi, juga dikenal sebagai bilirubin tidak langsung.
-
Transportasi ke Hati: Bilirubin tak terkonjugasi, karena tidak larut dalam air, diangkut dalam aliran darah terikat pada albumin. Kompleks albumin-bilirubin ini bergerak ke hati.
-
Penyerapan dan Konjugasi Hepatik: Pada membran sinusoidal hati, bilirubin berdisosiasi dari albumin dan diambil oleh hepatosit melalui protein transporter spesifik. Di dalam hepatosit, bilirubin mengalami konjugasi, suatu proses yang dikatalisis oleh enzim uridin difosfat glukuronosiltransferase (UGT1A1). Konjugasi ini melibatkan penambahan molekul asam glukuronat ke bilirubin, mengubahnya menjadi bilirubin terkonjugasi, juga dikenal sebagai bilirubin langsung. Konjugasi membuat bilirubin larut dalam air.
-
Ekskresi Bilier: Bilirubin terkonjugasi secara aktif diangkut ke dalam kanalikuli empedu, saluran kecil di dalam hati, dan kemudian diekskresikan ke dalam empedu.
-
Metabolisme dan Ekskresi Usus: Empedu, yang mengandung bilirubin terkonjugasi, disekresikan ke dalam usus kecil. Di usus, bakteri mendekonjugasi bilirubin kembali menjadi bilirubin tak terkonjugasi. Bilirubin tak terkonjugasi ini kemudian diekskresikan melalui tinja atau dimetabolisme lebih lanjut menjadi urobilinogen. Sebagian kecil urobilinogen diserap ke dalam aliran darah, disaring oleh ginjal, dan dikeluarkan melalui urin sebagai urobilin, berkontribusi terhadap warna kuning urin. Urobilinogen yang tersisa dioksidasi menjadi stercobilin, yang memberi warna coklat pada tinja.
Etiologies of Kuning Rumah Sakit: A Diverse Landscape
Kuning rumah sakit dapat timbul dari gangguan pada setiap tahap metabolisme bilirubin. Penyebab utamanya dapat dikategorikan secara luas menjadi etiologi pra-hati, hati, dan pasca-hati:
1. Ikterus Pra-Hepatik: Jenis penyakit kuning ini disebabkan oleh peningkatan produksi bilirubin, sehingga melebihi kapasitas hati untuk mengkonjugasikan dan mengeluarkannya. Penyebab umum meliputi:
* **Hemolysis:** Accelerated red blood cell destruction leads to a surge in bilirubin production. Hemolysis can be caused by:
* **Transfusion Reactions:** Incompatible blood transfusions can trigger acute hemolytic reactions. Identifying the patient's blood type and crossmatching blood products are crucial to prevent this.
* **Drug-Induced Hemolysis:** Certain medications, such as some antibiotics and anti-malarial drugs, can induce hemolysis in susceptible individuals, particularly those with glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD) deficiency.
* **Autoimmune Hemolytic Anemia:** In this condition, the body's immune system attacks its own red blood cells, leading to hemolysis.
* **Mechanical Hemolysis:** Medical devices, such as heart-lung machines or prosthetic heart valves, can cause mechanical trauma to red blood cells, resulting in hemolysis.
* **Sepsis:** Severe infections can sometimes lead to hemolysis.
* **Ineffective Erythropoiesis:** Conditions like thalassemia and sideroblastic anemia involve the production of abnormal red blood cells that are prematurely destroyed in the bone marrow, increasing bilirubin levels.
2. Penyakit kuning hati: Penyakit kuning jenis ini muncul akibat gangguan fungsi hati, sehingga memengaruhi penyerapan, konjugasi, atau ekskresi bilirubin. Penyebab umum meliputi:
* **Drug-Induced Liver Injury (DILI):** Many medications can cause liver damage, leading to impaired bilirubin metabolism. Common culprits include acetaminophen (paracetamol) overdose, certain antibiotics, nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), and herbal supplements. A thorough medication history is essential in evaluating jaundice.
* **Viral Hepatitis:** Hepatitis viruses (A, B, C, D, and E) can cause inflammation and damage to the liver, impairing its ability to process bilirubin.
* **Ischemic Hepatitis:** Reduced blood flow to the liver, often due to shock or heart failure, can cause liver damage and jaundice.
* **Sepsis-Associated Cholestasis:** Systemic infections can disrupt bile flow within the liver, leading to cholestasis and jaundice.
* **Cirrhosis:** Chronic liver disease, leading to fibrosis and scarring, impairs liver function and can cause jaundice. Cirrhosis can be caused by chronic hepatitis, alcohol abuse, or non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD).
* **Autoimmune Hepatitis:** The body's immune system attacks the liver, causing inflammation and damage.
3. Ikterus Pasca Hepatik: Penyakit kuning jenis ini terjadi akibat terhambatnya aliran empedu setelah meninggalkan hati, sehingga mencegah ekskresi bilirubin ke usus. Penyebab umum meliputi:
* **Choledocholithiasis:** Gallstones in the common bile duct can obstruct bile flow.
* **Biliary Strictures:** Narrowing of the bile ducts, often due to inflammation, surgery, or tumors, can impede bile flow.
* **Pancreatic Cancer:** Tumors in the head of the pancreas can compress the common bile duct, causing obstruction.
* **Cholangiocarcinoma:** Cancer of the bile ducts can also cause obstruction.
* **Post-Operative Biliary Complications:** Surgical procedures involving the biliary tract can sometimes lead to bile duct injury or strictures.
Pendekatan Diagnostik di Kuning Rumah Sakit: Proses Langkah-demi-Langkah
Pendekatan diagnostik sistematis sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab kuning rumah sakit. Langkah-langkah berikut biasanya terlibat:
-
Riwayat dan Pemeriksaan Fisik : Riwayat kesehatan yang terperinci, termasuk riwayat pengobatan, riwayat pembedahan, konsumsi alkohol, dan faktor risiko hepatitis, sangat penting. Pemeriksaan fisik harus fokus pada tanda-tanda penyakit hati, seperti hepatomegali (pembesaran hati), splenomegali (pembesaran limpa), asites (penumpukan cairan di perut), dan spider angioma (pembuluh darah kecil seperti laba-laba di kulit).
-
Tes Fungsi Hati (LFT): Tes darah ini memberikan informasi tentang fungsi dan kerusakan hati. LFT utama meliputi:
- Jumlah Bilirubin: Mengukur jumlah total bilirubin dalam darah.
- Bilirubin langsung: Mengukur jumlah bilirubin terkonjugasi dalam darah.
- Bilirubin tidak langsung: Dihitung dengan mengurangkan bilirubin langsung dari total bilirubin.
- Alanine Aminotransferase (ALT) dan Aspartat Aminotransferase (AST): Enzim-enzim ini dilepaskan ke aliran darah ketika sel-sel hati rusak. Peningkatan kadar menunjukkan kerusakan hati.
- Alkaline Phosphatase (ALP) dan Gamma-Glutamyl Transferase (GGT): Enzim-enzim ini meningkat pada kondisi kolestatik, menunjukkan adanya penyumbatan saluran empedu.
- Albumin: Protein yang diproduksi oleh hati. Kadar albumin yang rendah dapat mengindikasikan penyakit hati kronis.
- Waktu Protrombin (PT) dan Rasio Normalisasi Internasional (INR): Tes-tes ini mengukur kemampuan hati untuk memproduksi faktor pembekuan. PT/INR yang berkepanjangan dapat mengindikasikan disfungsi hati.
-
Hitung Darah Lengkap (CBC): Tes ini dapat membantu mengidentifikasi anemia, yang mungkin menunjukkan hemolisis, atau tanda-tanda infeksi.
-
Serologi Hepatitis Virus: Pengujian hepatitis A, B, dan C penting untuk menyingkirkan kemungkinan hepatitis virus.
-
Studi Pencitraan: Studi pencitraan dapat membantu memvisualisasikan hati, kandung empedu, dan saluran empedu untuk mengidentifikasi penghalang atau kelainan lainnya. Modalitas pencitraan yang umum meliputi:
- USG: Teknik pencitraan non-invasif yang dapat mendeteksi batu empedu, pelebaran saluran empedu, dan massa hati.
- Pemindaian Tomografi Terkomputasi (CT): Memberikan gambaran rinci tentang hati, pankreas, dan saluran empedu.
- Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI): Menawarkan resolusi jaringan lunak yang sangat baik dan dapat digunakan untuk mengevaluasi massa hati dan kelainan saluran empedu.
- Kolangiopankreatografi Retrograde Endoskopi (ERCP): Prosedur invasif yang melibatkan memasukkan endoskopi ke dalam saluran empedu untuk memvisualisasikannya dan berpotensi menghilangkan batu empedu atau memasang stent.
-
Biopsi Hati: Dalam beberapa kasus, biopsi hati mungkin diperlukan untuk menentukan penyebab penyakit kuning, terutama bila tes lain tidak meyakinkan.
Management of Kuning Rumah Sakit: Addressing the Underlying Cause
Penatalaksanaan kuning rumah sakit tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Strategi pengobatan mungkin termasuk:
- Menghentikan Pengobatan yang Menyinggung: Jika dicurigai DILI, obat yang menyebabkan penyakit harus segera dihentikan.
- Mengobati Infeksi: Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Obat antivirus digunakan untuk mengobati virus hepatitis.
- Mengelola Hemolisis: Perawatan untuk hemolisis mungkin termasuk transfusi darah, kortikosteroid, atau splenektomi (pengangkatan limpa).

