rs jih
RS Jihad: Memahami Akar Ideologi dan Manifestasi Kontemporer
Istilah “RS Jihad” adalah istilah yang kompleks dan kontroversial, sering digunakan untuk menggambarkan arus ideologi tertentu dalam Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), sebuah organisasi nasionalis Hindu terkemuka di India. Memahami nuansanya memerlukan pemeriksaan yang cermat terhadap sejarah, ideologi, dan berbagai interpretasi RSS serta penerapan prinsip-prinsip RSS oleh para anggota dan kritikusnya. Istilah ini sendiri mempunyai bobot yang berat, sehingga menimbulkan perbandingan dengan jihad Islam, dan penggunaannya sering kali dimaksudkan untuk bersifat provokatif dan kritis.
Prinsip Inti Ideologi RSS:
Inti dari ideologi RSS terletak pada konsep Hindutvasering diterjemahkan sebagai “ke-Hindu-an”. Ini bukan sekadar identitas keagamaan namun identitas budaya dan nasional yang lebih luas yang berakar pada sejarah, tradisi, dan nilai-nilai di anak benua India. RSS memandang India sebagai negara Hindu, dan mendukung pelestarian dan promosi budaya dan peradaban Hindu. Visi ini secara inheren mencakup rasa persatuan Hindu yang kuat dan keinginan untuk melindungi kepentingan Hindu, yang sering kali dianggap terancam oleh kekuatan internal dan eksternal.
Elemen kunci dari ideologi RSS meliputi:
- Nasionalisme Budaya: Menekankan warisan budaya bersama sebagai landasan persatuan bangsa, seringkali mengedepankan norma dan tradisi budaya Hindu.
- Akhand Bharat (India yang Tidak Terbagi): Visi India bersatu yang mencakup India, Pakistan, Bangladesh, dan terkadang bahkan Afghanistan saat ini, berdasarkan ikatan sejarah dan budaya.
- Identitas Hindu yang Kuat: Mempromosikan identitas Hindu yang kuat dan tegas, sering kali sebagai respons terhadap ancaman yang dirasakan dari kelompok agama atau budaya lain.
- Disiplin dan Organisasi: Menekankan tindakan disiplin dan kekuatan organisasi sebagai hal yang penting untuk mencapai tujuannya.
- Bangsa Pertama: Mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya, bahkan hak atau kebebasan individu, dalam konteks tertentu.
Kemunculan “RS Jihad” Sebagai Kritik:
Istilah “RS Jihad” terutama digunakan oleh para pengkritik RSS untuk menyoroti apa yang mereka anggap sebagai kecenderungan agresif dan eksklusif organisasi tersebut. Mereka berpendapat bahwa interpretasi dan penerapan ideologi RSS tertentu, khususnya oleh beberapa anggota dan organisasi afiliasinya, menyerupai konsep jihad dalam hal semangat, militansi, dan intoleransi terhadap mereka yang dianggap “orang luar” atau “musuh” bangsa Hindu.
Kritiknya berpusat pada beberapa bidang utama:
- Polarisasi Agama: Kritikus berpendapat bahwa penekanan RSS pada identitas dan budaya Hindu dapat berkontribusi terhadap polarisasi agama dan diskriminasi terhadap agama minoritas, khususnya Muslim dan Kristen.
- Revisionisme Sejarah: Narasi RSS mengenai sejarah India sering dianggap bias terhadap perspektif Hindu, meremehkan atau mengabaikan kontribusi komunitas lain dan membesar-besarkan keluhan sejarah.
- Kekerasan dan Intimidasi: Kritikus menunjuk pada contoh kekerasan dan intimidasi yang dilakukan anggota RSS atau kelompok afiliasinya terhadap agama minoritas, Dalit (sebelumnya dikenal sebagai “tak tersentuh”), dan pihak lain yang berbeda pendapat dengan ideologi RSS.
- Kecenderungan Otoriter: Penekanan RSS pada disiplin, kepatuhan, dan organisasi hierarkis dipandang oleh sebagian orang sebagai indikasi kecenderungan otoriter.
- Pengendalian Pendidikan dan Kebudayaan: Upaya RSS untuk mempengaruhi pendidikan dan kebudayaan melalui organisasi afiliasinya dipandang sebagai upaya untuk memaksakan pandangan dunia nasionalis Hindu pada masyarakat.
Contoh Spesifik yang Dikutip oleh Kritikus:
Beberapa contoh spesifik yang sering dikutip para kritikus untuk mendukung klaim “RS Jihad”:
- Pembongkaran Masjid Babri (1992): Penghancuran Masjid Babri di Ayodhya oleh aktivis nasionalis Hindu, termasuk anggota RSS dan organisasi afiliasinya, dipandang sebagai contoh utama intoleransi dan agresi beragama.
- Kerusuhan Gujarat (2002): Kekerasan yang meluas terhadap umat Islam di Gujarat pada tahun 2002, yang diduga melibatkan pemerintah negara bagian dan keterlibatan anggota RSS, adalah contoh lain yang sering dikutip.
- Kampanye “Jihad Cinta”: Kampanye melawan “Jihad Cinta”, sebuah teori konspirasi yang menyatakan bahwa laki-laki Muslim dengan sengaja merayu perempuan Hindu agar mereka masuk Islam, dipandang sebagai upaya untuk menjelek-jelekkan Muslim dan mengontrol pilihan perempuan.
- Gau Raksha (Perlindungan Sapi) Vigilantisme: Munculnya kelompok-kelompok main hakim sendiri yang mengaku melindungi sapi, yang seringkali berujung pada kekerasan terhadap umat Islam dan Dalit yang terlibat dalam perdagangan ternak, juga merupakan hal yang memprihatinkan.
- Mempromosikan Hindu Rashtra (Bangsa Hindu): Tujuan utama RSS untuk mendirikan Hindu Rashtra, di mana nilai-nilai dan tradisi Hindu dominan, dipandang sebagai ancaman terhadap konstitusi India yang sekuler dan pluralistik.
Argumen dan Pembelaan:
Pendukung RSS dengan tegas menolak istilah “RS Jihad” dan berpendapat bahwa istilah tersebut merupakan penafsiran keliru yang jahat terhadap tujuan dan aktivitas organisasi. Mereka mengklaim bahwa RSS adalah organisasi patriotik yang didedikasikan untuk persatuan dan kemajuan India, dan kegiatannya bertujuan untuk mempromosikan budaya dan nilai-nilai Hindu dengan cara yang damai dan konstruktif.
Pembelaan mereka sering kali mencakup:
- Penolakan Kekerasan: Para pendukung RSS menyangkal bahwa RSS mendorong atau membiarkan kekerasan terhadap komunitas mana pun, dan mereka menghubungkan kejadian-kejadian kekerasan tersebut dengan anggota individu yang bertindak atas kemauan mereka sendiri.
- Penekanan pada Pelayanan Sosial: Mereka menyoroti aktivitas pelayanan sosial RSS yang luas, seperti menjalankan sekolah, rumah sakit, dan program bantuan bencana, sebagai bukti komitmennya terhadap kesejahteraan seluruh masyarakat India.
- Pertahanan Kebudayaan Hindu: Mereka berpendapat bahwa mempromosikan budaya Hindu pada dasarnya tidak bersifat diskriminatif dan penting untuk melestarikan warisan unik India.
- Melawan Diskriminasi yang Dirasakan: Mereka mengklaim bahwa umat Hindu secara historis mengalami diskriminasi di India dan RSS berupaya melindungi hak dan kepentingan mereka.
- Tuduhan “Ketenangan Minoritas”: Mereka menuduh lawan-lawan politik melakukan “peredaan terhadap kelompok minoritas,” dengan alasan bahwa mereka secara tidak adil memihak kelompok agama minoritas dan merugikan kelompok mayoritas Hindu.
Nuansa dan Keanekaragaman Internal:
Penting untuk diketahui bahwa RSS adalah organisasi yang besar dan beragam dengan beragam pandangan dan opini di antara para anggotanya. Tidak semua anggotanya menganut interpretasi paling ekstrem terhadap Hindutva, dan terdapat perdebatan yang sedang berlangsung di dalam organisasi tersebut mengenai perannya dalam masyarakat India. Beberapa anggota mungkin benar-benar percaya untuk mempromosikan budaya Hindu dengan cara yang damai dan inklusif, sementara yang lain mungkin memiliki pandangan yang lebih eksklusif dan agresif.
Selain itu, hubungan RSS dengan organisasi afiliasinya, seperti Vishwa Hindu Parishad (VHP) dan Bajrang Dal, bersifat kompleks dan seringkali tidak langsung. Walaupun organisasi-organisasi ini memiliki landasan ideologi yang sama, mereka mungkin mempunyai pendekatan dan prioritas yang berbeda, dan RSS tidak selalu mempunyai kendali langsung atas aktivitas mereka.
Kesimpulan:
Istilah “RS Jihad” adalah istilah yang sarat muatan dan kontroversial, yang mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap bangkitnya nasionalisme Hindu di India. Meskipun para pendukung RSS dengan keras menolak label tersebut, para pengkritiknya menunjuk pada contoh-contoh kekerasan, diskriminasi, dan intoleransi tertentu sebagai bukti validitas label tersebut. Memahami perdebatan ini memerlukan pemeriksaan yang cermat terhadap ideologi RSS, lintasan sejarahnya, dan beragam perspektif anggota dan kritikusnya. Perdebatan ini menyoroti hubungan yang kompleks dan sering kali rumit antara agama, nasionalisme, dan politik di India kontemporer.

